Minggu, 09 Desember 2012

Laporan Percobaan Identifikasi Hidrokarbo


                

Laporan Percobaan Identifikasi Hidrokarbon

I.                   Tujuan
Menyelidiki sifat-sifat fisik dan kelarutan senyawa hidrokarbon.
Membandingkan reaktivitas antara alkana, alkena, dan senyawa aromatik

II.                Dasar Teori
            Senyawa organik yang hanya terdiri dari atom hidrogen dan karbon disebut hidrokarbon. Senyawa hidrokarbon dikelompokkan berdasarkan bentuk rantai dan ikatan yang terdapat pada sinyawa tersebut. Berdasarkan bentuk rantainya, senyawa hidrokarbon dibagi menjadi hidrokarbon alifatik (rantai tertutup) dan alisiklik (tertutup). Berdasarkan ikatannya, hidrokarbon terbagi menjadi hidrokarbon jenuh ( tidak memiliki ikatan rangkap) dan tak jenuh (memiliki ikatan rangkap)
Pengujian atau identifikasi suatu senyawa hidrokarbon daapt dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya :
  1. Reaksi dengan bromin
Hasil pembakaran hidrokarbon adalah CO2 dan H2O.
CH4 + 2 O2   →  CO2 + 2 H2O
  1. Reaksi dengan H2SO4 pekat dingin
Hidrokarbon tak jenuh mengalami reaksi adisi dengan H2SO4 pekat dingin. Produk yang dihasilkan adalah asam alkil sulfonat yagn larut dalam H2SO4.
CH3–CH =CH–CH3 + H2SO4   →   CH3CH2CH(HSO3)CH3

III.             Metode Percobaan
·           Alat :
            1.    Tabung dan rak tabung reksi
2.    Gelas arloji
3.    Pipet tetes
4.    Batang pengaduk
5.    Gelas ukur
6.    Korek
·           Bahan :
             1.      Laturan KMnO4 1% , minyak tanah, H2SO4 pekat, sikloheksana, toluen, 2 sampel X
             2.      Aquadest

·           Cara Kerja :
      
IV.             Hasil dan Pembahasan
Sampel
Reaksi kelarutan
Reaksi pembakaran
Reaksi dengan  KMnO4
Reaksi dengan H2SO4
Toluena
Tidak larut dalam air atau minyak tanah
Api berwarna merah dengan asap hitampekat
KMnO4 tidak berubah warna dan tidak bercampur, banyak tercecer di  bawah tabung
Menghasilkan panas.  Larutan menjadi dua lapis. Warna keruh dibagian atas dan bening
Sikloheksana
Tidak larut dalam air atau minyak tanah
Api bewarna merah dengan asap hitam
 seperti pada toluena tetapi KMnO4 tidk terlalu tercecer  dan warna lebih menyatu
-
Sampel a
Tidak larut dalam air atau minyak tanah
Api berwarna merah tanpa asap
Sama seperti siklo heksana
-
Sampel b
Tidak larut dalam air atau minyak tanah
Api berwarna merah tanpa asap
Sama seperti toluena
Menghasilkan panas (hangat)

Pembahasan
            Dari beberapa uji reaksi tidak menunjukan perbedaan yang signifikan antara hidrokarbon jenuh atau tak jenuh. Kecuali pada uji dengan asam sulfat. Uji ini menunjukan adanya reaksi eksoterm dimana terjadi reaksi adisi yang menunjukan ikatan karbon dalam senyawa ini adalah ikatan tak jenuh.

V.                Kesimpulan
•         Sampel a berisi senyawa hidrokarbon jenuh.
•         Sampel b berisi senyawa hidrokarbon tak jenuh.



PERCOBAAN 3:IDENTIFIKASI ALDEHIDA DAN KETON


IDENTIFIKASI ALDEHIDA DAN KETON
I.                   Tujuan Percobaan :
-        Mempelajari sifat – sifat kimia aldehid dan keton
-        Mempelajari tes untuk membedakan aldehid dan keton
II.                Dasar Teori :
Salah satu gugus fungsi yang kita yaitu aldehid. Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat pada sebuah atau dua buah atom hidrogen. Nama IUPEC dari aldehida diturunkan dari alkana dengan mengganti akhiran “ana“ dengan “al“. Nama umumnya didasarkan nama asam karboksilat ditambahkan dengan akhiran dehida (Petrucci, 1987).
Aldehid dinamakan menurut nama asam yang mempunyai jumlah atom C sama pada nama alkana yang mempunyai jumlah atom sama. Pembuatan aldehida adalah sebagai berikut: oksidasi alkohol primer, reduksi klorida asam, dari glikol, hidroformilasi alkana, reaksi Stephens dan untuk pembuatan aldehida aromatik (Fessenden, 1997).
Aldehid dan keton adalah senyawa-senyawa yang mengandung salah satu dari gugus penting di dalam kimia organic,yaitu gugus karbonil C=O. Semua senyawa yang mengandung gugus ini disebut senyawa karbonil.Gugus karbonil adalah senyawa yang paling menentukan sifat kimia aldehid dan keton.Oleh karena itu banyak sekali sifat fisik dari yang lain senyawa-senyawa ini adalh mirip satu sama lainnya.
Salah satu reaksi untuk pembuatan aldehid adalah oksidasi dari alkohol primer. Kebanyakan oksidator tak dapat dipakai karena akan mengoksidasi aldehidnya menjadi asam karboksilat. Oksidasi khrompiridin komplek seperti piridinium khlor kromat adalah oksidator yang dapat merubah alkohol primer menjadi aldehid tanpa merubahnya menjadi asam karboksilat (Petrucci, 1987).
Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil terikat pada dua gugus alkil, dua gugus alkil, atau sebuah alkil. Keton juga dapat dikatakan senyawa organik yang karbon karbonilnya dihubungkan dengan dua karbon lainnya. Keton tidak mengandung atom hidrogen yang terikat pada gugus karbonil (Wilbraham, 1992).
Pembuatan keton ynag paling umum adalah oksidasi dari alkohol sekunder. Hampir semua oksidator dapat dipakai. Pereaksi yang khas antara lain khromium oksida (CrO3), phiridinium khlor kromat, natrium bikhromat (Na2Cr2O7) dan kalium permanganat (KMnO4) (Respati, 1986).
Reaksi-reaksi pada aldehida dan keton adalah reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Reaksi oksidasi untuk membedakan aldehida dan keton. Aldehid mudah sekali dioksidasi, sedangkan keton tahan terhadap oksidator. Aldehida dapat dioksidasi dengan oksidator yang sangat lemah. Sedangkan reaksi reduksi terbagi menjadi tiga bagian yaitu reduksi menjadi alkohol, reduksi menjadi hidrokarbon dan reduksi pinakol (Wilbraham, 1992).
Sifat-sifat fisik aldehid dan keton, karena aldehid dan keton tidak mengandung hidrogen yang terikat pada oksigen, maka tidak dapat terjadi ikatan hidrogen seperti pada alkohol. Sebaliknya aldehid dan keton adalah polar dan dapat membentuk gaya tarik menarik elektrostatik yang relatif kuat antara molekulnya, bagian positif dari sebuah molekul akan tertarik pada bagian negatif dari yang lain (Fessenden, 1997).
A.    Iodoform
Iodoform termasuk senyawa haloform selain kloroform dan bromoform. Iodoform merupakan salah satu haloform yang berbentuk kristal berwarna kuning, dan sedikit larut dalam air. Secara umum haloform dibuat dari suatu senyawa metil keton/ metil aldehida atau dari senyawa yang bila teroksidasi menghasilkan senyawa tersebut. Mekanisme reaksi :



Reaksi :

Rekristalisasi adalah pemurnian zat padat secara mengkristalkan kembali dari cairan pelarut atau campuran pelarut, melarutkan kristal dalam pelarut panas(atau campuran pelarut) kemudian mendinginkan larutan secara perlahan sampai terbentuk kristal yang murni.
Tujuan Rekristalisasi :
1. Menghilangkan kotoran yang dihasilkan selama reaksi baik mekanis maupunfisis
2. Mendapatkan kristal yang bagus.
            Proses rekristalisasi terdiri dari :
1. Melarutkan zat yang belum murni ke dalam pelarut yang cocok pada atau dekat titik didihnya.
2. Menyaring larutan panas dari partikel-partikel / kotoran-kotoran / bahanyang tidak       larut.
3. Pendiaman larutan panas menjadi dingin, sehingga terbentuk kristal.
4. Pemisahan kristal dari larutan induk.
5. Pengeringan
B.  Tes Benedict
Tes Benedict memberikan hasil positif bila terbentuk endapan merah bata.  Tes benedict memberikan hasil positif bila terbentuk endapan merah bata. Aldehida alifatik dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan pereaksi benedict( kompleks ion Cu(II) sitrat dalam larutan basa). Ion Cu(II) direduksi menjadi Cu2O(endapan berwarna merah bata). Aldehida aromatik dan keton tidak bereaksi dengan pereaksi benedict.
R-CHO  +  2Cu2+ +  5 OH     รจ R-COO- +  Cu2O  +   3 H2O
 Biru                                                      merah bata 


III.             Alat dan Bahan
Alat :
-        Tabung Reaksi
-        Pipet Tetes
-        Batang Pengaduk
-        Pemanas Listrik
-        Kaca Arloji
-        Gelas Piala
-        Gelas Ukur
-        Termometer
Bahan : 
-        KI
-        NaOCl 5%
-        Aseton
-        Alkohol
-        Formaldehida
-        Aseton
-        Benzaldehida
-        Pereaksi Benedict
IV.             Cara Kerja :
A.    Iodoform
-        Dilarutkan 6 gram KI ke dalam 100 ml air dengan menggunakan gelas beaker
-        Ditambahkan sedikit demi sedikit larutan NaOCl 5% dan Diaduk hingga terbentuk endapan iodoform
-        Diamkan larutan tersebut selama 10 menit . Kemudian disaring. Kristal yang diperoleh dicuci sebanyak 2 hingga 3 kali
-        Rekristalisasi dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Kristal ditempatkan dalam gelas beaker dan ditambahkan sedikit demi sedikit alkohol sambil dipanaskan sampai iodoform larut. Larutan yang masih panas disaring ke dalam gelas beaker dan didinginkan. Kristal yang terbentuk disaring dan dikeringkan. Kristal yang dihasilkan kemudian ditimbang.
B.     Tes Benedict
-        Dimasukkan masing – masing 10 tetes formaldehid, benzaldehida, dan aseton ke dalam 3 tabung reaksi yang bersih dan kering
-        Ditambahkan 20 ml (20 tetes) pereaksi benedict ke dalam setiap tabung reaksi
-        Masing – masing tabung reaksi dikocok dan kemudian tabung reaksi tersebut dipanaskan pada suhu di atas 900C dalam beaker air selama 10 menit.
-        Didinginkan tabung reaksi dan diamati yang terjadi


V.                Hasil Pengamatan
Berat Kertas Saring Kosong = 1050 mg
Berat Kertas Saring + Kristal = 1450 mg
Berat Kristal = (Berat kestas saring+kristal) – Berat kertas saring kosong
                     =  (1450 mg– 1050mg) =  400 mg
Larutan
Reaksi sebelum dipanaskan
Reaksi setelah dipanaskan
Aseton + Benedict
 Larutan berwarna biru
Larutan berwarna biru
Formaldehida + Benedict
Larutan berwarna hijau tosca
Larutan berwarna biru

VI.             Reaksi dan Perhitungan

R-C-CH3+ 3I2+ 4NaOH → R-C-ONa  +   3NaI  +  3H2O + CHI3
Metil keton                                                      Iodoform kuning

VII.          Pembahasan
Pada praktikum kali ini , praktikan melakukan percobaan identifikasi aldehida dan keton dengan tujuan untuk mempelajari sifat – sifat kimia aldehida dan keton dan mempelajari tes dengan membedakan aldehida dan keton. Pada aldehida terdapat aldehida alifatik dan aldehida aromatik. Namun pada percobaan ini hanya digunakan larutan aseton dan formaldehida.
Pada percobaan pertama, praktikan menentukan berat kristal yang terbentuk dari tes iodoform. Langkah awal yang dilakukan untuk melakukan tes iodoform yaitu 6 gram KI dimasukkan ke dalam gelas beaker kemudian ditambahkan 100 ml aquades dan 2ml aseton. Lalu ditambahkan pelan – pelan larutan NaOCl 5% sambil diaduk hingga terbentuk endapan iodoform berwarna kuning. Kemudian endapan tersebut didiamkan selama 10 menit. Setelah 10 menit, larutan tersebut disaring. Dan kristal yang diperoleh dicuci dengan aquades hingga 2 sampai 3 kali. Pencucian dilakukan menggunakan aquades karena aquades adalah pelarut inert yaitu pelarut yang tidak menimbulkan reaksi apapun pada suatu sistem dan tidak merusak reaksi didalamnya. Setelah itu, dilakukan rekristalisasi atau pemurnian. Cara untuk melakukan rekristalisasi yaitu kristal di tempatkan di dalam beker dan ditambahkan sedikit demi sedikit alkohol hingga dipanaskan sampai endapan iodoform larut. Penambahan alkohol bertujuan untuk melarutkan sempurna kristal iodoform. Karena pada dasarnya alkohol adalah pelarut dalam iodoform. Lalu larutan yang masih panas tersebut disaring kedalam gelas beaker dan didinginkan. Kristal yang terbentuk disaring dan di kering. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, didapatkan berat kristal yang dihasilkan sebesar 400mg.
            Reaksi yang terjadi pada proses tes iodoform ini sebagai berikut :
R-C-CH3+ 3I2+ 4NaOH → R-C-ONa  +   3NaI  +  3H2O + CHI3
Metil keton                                                      Iodoform kuning

Pada percobaan kedua, praktikan mengamati reaksi yang terjadi saat tes benedict. Langkah awal yang dilakukan untuk melakukan percobaan ini yaitu 10 tetes aseton dan formaldehida masing – masing dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 2ml pereaksi benedict ke dalam masing – masing tabung reaksi. Lalu tabung reaksi tersebut dikocok dan dipanaskan selama 10 menit. Setelah itu tabung reaksi didinginkan dan diamati apa yang terjadi. Ketika larutan aseton yang berwarna bening direaksikan dengan pereaksi benedict yang berwarna biru, maka larutan tersebut menghasilkan larutan yang berwarna biru. Dalam tes benedict, hasil yang positif ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam reaksi tersebut menghasilkan hasil yang negatif karena tidak terbentuknya endapan warna merah ketika aseton direaksikan dengan pereaksi benedict.
Ketika larutan formaldehida yang berwarna merah darah direaksikan dengan pereaksi benedict yang berwarna biru, menghasilkan larutan yang berwarna hijau tosca. Namun setelah dipanaskan selama 10 menit pada suhu 900C larutan tersebut berubah warna menjadi berwarna biru. Tidak terbentuknya endapan berwarna merah bata dalam reaksi ini sehingga dapat disimpulkan bahwa larutan ini menghasilkan hasil yang negatif. Namun ketika formaldehid dan pereaksi benedict direaksikan seharusnya menghasilkan hasil yang positif dan menghasilkan endapan merah bata. Kesalahan dalam percobaan ini disebabkan human error saat melakukan percobaan. Reaksi aldehid alifatik dengan benedict :

VIII.       Kesimpulan
-        Tes benedict positif hanya untuk senyawa aldehid alifatik yaitu formaldehid
-        Tes benedict negatif untuk senyawa keton yaitu aseton
IX.             Daftar Pustaka
Hart, Harold,dkk. 2003. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga
Riyadhi, Adi,dkk.2010.Petunjuk Praktikum Kimia Organik I. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
http://yuniethafafa.blogspot.com/2012/01/esterifikasi.html diunduh tanggal 03 desember 2012 pukul 17:03pm
www.scribd.com/doc/46124303/Identifikasi-Aldehid-dan-keton diunduh tanggal 30 November 2012 pukul 08:10 pm.